Sabtu, 3 Desember 2016. Seorang pemuda berkulit hitam berjalan di depan, memimpin para pemuda lainnya yang memiliki tekad sama, menjawab harapan jutaan orang di bawah panji merah putih. Pemuda ini tidak berasal dari mayoritas, tampaknya tidak ada yang peduli dengan hal itu. Semua orang tahu dan yakin bahwa Ia adalah sosok yang memang harus melingkarkan ban kapten di lengan kirinya. Ia adalah Boaz Solossa. Jendral lapangan Indonesia yang memimpin kompatriotnya menghadapi Vietnam di hadapan 30.000 penonton juga Presiden Republik Indonesia dan para pejabat yang menikmati tiket gratisan serta bangku nyaman.

Boaz adalah harapan Indonesia, itu terlihat ketika Boaz menjalani laga debut di Piala Tiger 2004 (kala itu AFF masih bernama Piala Tiger) di mana ia belum bergabung dengan klub profesional mana pun. Bersama Ilham Jaya Kesuma dan Kurniawan Dwi Yulianto, Boaz mengantarkan Indonesia ke final dan mencetak 4 gol. Selepas debut tersebut, Boaz menjadi salah satu striker paling mematikan di Indonesia. Dia adalah satu-satunya striker yang bisa mendobrak dominasi striker asing di papan pencetak gol terbanyak liga Indonesia.

Tampaknya semua sepakat, bahwa pemain yang paling layak mengenakan ban kapten di timnas selepas Bambang Pamungkas dan Pornayo Astaman adalah Boaz. Bochi, panggilan Boaz, adalah pemain yang memiliki penampilan terbanyak di Timnas saat ini, dari segi kemampuan juga paling mumpuni. Tidak ada yang memilih Boaz hanya karena dia Papua atau bahkan Non-muslim. Sepakbola mengajarkan kita, bahwa seseorang yang layak menjadi pemimpin adalah mereka yang berkompeten dan memiliki rekam jejak. Oleh karena itu, selepas Boaz diganti, ban kapten melekat pada Andik Vermansyah, bukan Kurnia Meiga. Ya, wakil kapten adalah Andik Vermansyah. Pemain yang berusia lebih muda, penampilan di timnas lebih sedikit namun memiliki kemampuan lebih apik dan pengalaman lebih kaya dari Kurnia Meiga.

Penentuan kapten timnas tidak dilakukan oleh vote oleh rakyat atau minimal oleh para pemain, penentuan kapten memang dilakukan oleh pelatih. tapi apakah ada pemain timnas yang protes kepada Alfred Reidl bahwa Ia tidak mau dipimpin oleh orang yang berbeda suku dan rasnya? Atau ada pemain timnas yang berusaha menjadikan Boaz kapten karena ia berasal dari minoritas. Wajah Indonesia di sepakbola internasional diwakili oleh seorang Pemuda Papua dan Kristen. Diwakili oleh seseorang yang secara rekam jejak dan kompetensi layak melingkarkan ban kapten di lengan kiri.

Gelaran AFF ini secara kebetulan memberikan gambaran yang berbeda dengan kondisi di luar lapangan. Sepakbola mengajarkan kebhinekaan yang sejati, bersatu tanpa mayoritas dan minoritas, berbeda-beda tapi satu tujuan, kemenangan. Kebhinekaan yang tidak terpecah-pecah. Berbeda tapi menyatu atas seragam merah dan putih. Tidak ada mayoritas yang ingin semua tunduk dan minoritas yang merajuk. Semua berdiri setara, dinilai berdasarkan kemampuan dan pengalaman.

Kebhinekaan bukan berarti terjadi ketika minoritas menjadi pemimpin, tapi ketika mayoritas dan minoritas berposisi setara, dan punya kesempatan yang sama, dinilai berdasarkan ide dan gagasan, pengalaman dan kemampuan. Memaksa memilih karena seseorang minoritas sama dengan mereka yang menolaknya. Padahal memilih atau tidak memilih itu harus disandingkan kepada program dan rekam jejak yang diusung. Perdebatannya seharusnya ada pada wilayah itu bukan pada wilayah mayoritas dan minoritas. Cita-cita dari Bhineka tunggal ika bukan hanya menjadikan minoritas pemimpin, tapi menjadikan mayoritas dan minoritas ada posisi yang sama, setara.

Lagi-lagi, sepakbola tidak hanya menjadi pelarian bagi beban ekonomi, namun juga mengajarkan tentang bhineka tunggal ika. Kakak Boaz tetap menjadi harapan dari 250 juta rakyat Indonesia yang rindu melihat garuda dengan bangga mengangkat piala. Piala yang setidaknya menyadarkan kita bahwa banyak sekali pekerjaan rumah tentang keragaman yang lupa direkatkan kembali setelah retak dan terpecah beberapa tahun terakhir. Dibalik pentingnya keragaman dan perbedaan ada persatuan yang seharusnya tidak boleh dilupakan.

post ini ada juga di https://medium.com/@AnggaPutraF/ban-kapten-boaz-solossa-8d53b116f889

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *