catatan

Tidak ada ucapan selain #MakasihAnies

#MakasihAnies

Malam itu saya sedang melihat tayangan Kick Andy. Ada seseorang yang baru pulang menjadi guru selama satu tahun di ujung Republik. Saya takzim ada sekelompok pemuda Indonesia yang berani bunuh diri kelas. Para pemuda ini tinggal selama 1 tahun, jauh dari rumah, jauh dari kenyamanan yang pasti bisa diraihnya di kota. Malam itu, satu lagi keinginan saya muncul. Saya harus bisa pergi bersama mereka. Pergi ke sudut terdalam, jadi guru.

Masa itu saya sedang aktif-aktifnya berorganisasi. Ikut demo tolak kenaikan BBM, ikut mayday, demo kenaikan SPP. Buku yang dibaca adalah buku-buku yang saat itu kelihatan aneh tapi keren. Diskusi dengan istilah-istilah tinggi supaya terlihat pintar, apa yang dilakukan untuk membela rakyat. Tayangan malam itu memberikan tantangan untuk diri saya sendiri, rakyat siapa yang kamu bela? Sudah pernah bertemu Rakyat Indonesia yang dimaksud?

Tayangan ini juga tersimpan dalam diri saya, #MakasihAnies

Mengajar adalah jalan yang dipilih oleh para pejuang Indonesia. Soekarno mengawali perjuangan dengan mengajar, Tan Malaka mengawali perjuangan menjadi guru di Deli. Para pendiri bangsa menempatkan pendidikan sebagai tonggak awal perjuangan. Mencerdaskan kehidupan bangsa bahkan ada di dalam satu janji kemerdekaan yang dirumuskan pasca kemerdekaan. Ketika ada sebuah lembaga yang mengajak anak-anak muda untuk memberikan satu tahun waktunya untuk sedikit melunasi janji kemerdekaan, darah muda nasionalis pasti akan bergolak.

Singkat cerita saya terpilih jadi 52 orang yang akan berangkat. Di hari keberangkatan menuju penempatan, 3 November 2012 di Bandara Soekarno Hatta. Anies Baswedan memberikan pidato pelepasan kepada kami, anak-anak muda yang akan hidup selama 1 tahun di ujung Republik. “Jika ditanya apakah kalian dari pemerintah atau swasta, sampaikan dengan sopan, Bapak-Ibu Kami datang mewakili Negara” katanya.

Upacara pelepasan ditutup dengan nyanyian Indonesia Raya di depan terminal 1 Bandara Soekarno Hatta. Setiap orang pasti pernah merasakan momen seperti ini, bergetar, terharu bahkan sampai menangis. #MakasihAnies yang memberikan kesempatan kepada saya dan 51 teman lainnya untuk jadi sedikit bagian dari orang-orang yang sedang melunasi janji kemerdekaan, mencerdaskan kehidupan bangsa.

Bagi saya, pengalaman selama satu tahun mengajar di Tulang Bawang Barat mengajarkan kerendahan hati, mengingatkan untuk selalu bersyukur dan membuat saya susah terlepas dari keberpihakkan. Selepas pulang dari mengajar setahun saya menjadi tidak lepas dari gerakan sosial dan gerakan politik. Hal yang pertama saya cari ketika saya pulang adalah apa yang bisa saya lakukan untuk membuat Indonesia lebih baik. Mulai dari hal yang kecil dan sederhana sampai hal-hal besar tentang negara.

Di Jakarta saya bertemu dengan orang-orang yang merasakan hal serupa, mereka yang merayakan gerakan-gerakan yang juga didorong oleh Beliau. Saya akhirnya membela rakyat itu tidak melulu tentang bergerak sendiri dan idealis. Bergerak untuk rakyat itu tentang gerak sama-sama apapun jalan yang diraih, selama cita-cita dan tujuannya sama itu adalah kenikmatannya. Ketika jabatan politik diembannya, Anies Baswedan tidak melupakan Gerakan. Hari Pertama Sekolah adalah salah satu gerakan yang juga diinisiasi oleh tempatnya bekerja saat itu. Keramaian dan keriuhan hari pertama sekolah adalah hasilnya.

Ada yang pernah nonton video ini?

Tidak hanya pendidikan, Anies Baswedan juga menginisasi gerakan anak muda untuk dukung orang baik masuk politik. Gerakan yang cukup anti-mainstream saat itu. Saya yang selama 5 tahun di kampus belajar politik, waktunya dikampus dihabiskan beraktivitas politik tentunya melihat secercah harapan ada seorang tokoh muda yang mengajak rekan-rekan sejawat saya untuk peduli politik. Anak muda diajak untuk peduli terhadap pengelola pajak mereka. Saat itu karena suasana yang terbangun adalah konvensi demokrat, saya masih menolak mendaftar jadi relawan. Selepas konvensi saya akhirnya daftar sebagai relawan dan sampai hari ini masih tergabung sebagai relawan dari sebuah gerakan edukasi politik untuk anak SMA di Jakarta.

satu pidato ini juga membuat saya berkesan. Indonesia Kita Semua, Indonesia hadir tidak untuk melindungi mayoritas bukan untuk melindungi minoritas.

Satu lagi pelajaran mendasar yang diajarkan, Anies Baswedan yang saat ini sedang mencalonkan diri menjadi Gubernur tidak memanfaatkan gerakan yang sudah diinsiasi untuk mendukung pencalonannya, gerakan yang diinisiasi tetap bergerak sesuai dengan jalur yang sudah ditentukan dulu.

Sekadar ucapan terima kasih tentunya tidak akan cukup untuk membayar apa yang sudah ditorehkan beliau di hidup saya. Yang bisa saya lakukan adalah tetap membantu beliau yang sedang berjuang, yang sedang membawa misinya. Hanya itu cara yang bisa saya lakukan untuk pengganti ucapan #MakasihAnies.

#MakasihAnies

Tulisan ini juga dimuat di https://medium.com/@AnggaPutraF/tidak-ada-ucapan-selain-makasihanies-40f0baaaaa6d pada 29 Desember 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *