Politik

Gotong Royong untuk Jakarta

Pada awal masa kampanye, Anies Baswedan pernah bercerita tentang pemerintah dan gerakan. Cerita diawali dari pertanyaan, “Kamu tahu gak bedanya pemerintah sebagai penggerak dengan pemerintah sebagai pelayan? Kalau pemerintah sebagai pelayan, pada saat agresi militer belanda dulu, warga cukup bayar pajak dan TNI yang melawan Agresi Militer 1 dan 2, apakah Indonesia bisa seperti sekarang?”. Faktanya rakyat dan tentara bahu membahu melawan Agresi Militer Belanda ke Indonesia. Kalau pada masa itu rakyat memilih menyerahkan urusan belanda pada Pemerintah tentunya pidato legendaris Bung Tomo tidak akan pernah terjadi.

Ah, kami sudah susah-susah bekerja, habis waktu di jalan karena macet masa kami harus ikut bantu pemerintah. Lalu pemerintah gunanya apa? Kami kan sudah bayar pajak. Ini adalah sebagian besar dari pernyataan orang-orang di media sosial ketika Anies Baswedan bicara tentang memimpin kota dengan gerakan.

PNS di DKI Jakarta saat ini berjumlah sekitar 70.000 orang, Penduduk DKI saat ini berjumlah 10 juta orang. Kira-kira 1 PNS akan melayani kebutuhan 142 orang. Apakah cukup untuk menyelesaikan masalah di DKI Jakarta yang sangat kompleks ini?

Jika kamu perencana keuangan, donasikan waktumu untuk melatih para pegiat UMKM untuk mengatur keuangannya lebih baik di Program OK-OCE. Kamu seorang pengusaha sukses, kamu bisa juga jadi mentor orang-orang yang baru merintis usahanya juga di OK-OCE. Kamu adalah arsitek, bisa mendonasikan keahlianmu untuk membantu warga merancang sendiri penataan kampungnya agar menjadi lebih sehat dan lebih rapi. Kamu seorang manajer perusahaan ternama, bagikan ilmu pengelolaan perusahaan kepada RT dan RW di rumahmu agar pengelolaan warga menjadi lebih baik. Untuk menjadikan Jakarta lebih baik, tentunya tidak akan percuma jika harus mengambil 1 dari 8 akhir pekan setiap bulannya. Gotong Royong, frase kata dari perasan Pancasila.

Sudah waktunya warga turun langsung jadi bagian dari solusi dari berbagai masalah yang ada di Jakarta. Karena Jakarta yang lebih baik akan membawa kebaikan setiap bagian yang hidup di dalamnya.

Jadi kamu mau ada dimana?

Sudah tahu mau ada di sisi sebelah mana? kamu masih ragu karena ada Anies Baswedan pernah bertemu FPI, Al-Khatath? Atau isu Jakarta bersyariat yang sempat digaungkan pendengung di lini masa? Silakan cek fitnahlagi.com

Pertanyaan sederhananya, menurut kamu Anies Baswedan akan bertanya tentang solusi DKI Jakarta ke Rizieq Shihab atau ke Marco Kusumawijaya? Tentunya untuk bertanya tentang agama, Rizieq Shihab bisa jadi referensi tapi untuk solusi perkotaan, Marco Kusumawijaya, seorang ahli perkotaan yang tionghoa dan katolik, akan lebih bisa dipercaya. Tentang dukungan kaum kanan Anies Baswedan juga didukung oleh Habib Luthfi Bin Yahya, ulama terkemuka ini bahkan menitipkan pesan persatuan pada Anies Baswedan. Bahkan Anies diajak bernyanyi bersama beliau. Menurut teman saya, ini adalah peristiwa spesial, karena tidak sembarang orang bisa melihat Habib Luthfi memainkan keyboard kesayangannya. Ada lagi Cak Nun yang kemarin baru saja bertemu dengan Anies Baswedan di Yogyakarta. Kalau mau main prasangka seperti yang dilempar di media sosial. Apakah Habib Luthfi dan Cak Nun juga mendukung seperti yang dicitrakan pasokan buzzer paslon sebelah atau malah mengedepankan persatuan?

Usaha Anies Baswedan maju di Pilkada DKI Jakarta untuk bersaing dengan Basuki Thajaja Purnama tentunya jadi corong aspirasi berbagai kepentingan. Baik dari yang kanan sampai yang kiri. Setiap orang akan bahu membahu untuk menyalurkan apsirasinya dengan mendukung paslon pilihannya untuk memenangkan Pemilihan Kepala Daerah. Ya benar ada kelompok yang ingin menyalurkan keinginannya memilih pemimpin yang seagama, tapi ada juga yang mendukung karena Paslon 3 mewakili kebutuhannya seperti Jaringan Rakyat Miskin Kota (JRMK) dan Koalisi Buruh Jakarta (KBJ).

Pillkada DKI Jakarta 2017 sebentar lagi akan mencapai puncaknya. 19 April adalah cerita klimaks dari semua riuh rendah sejak September 2016 lalu. Saya tahu setiap orang pasti sudah punya pilihannya masing-masing. Ada yang memilih karena suka akan kinerja, karena kesamaan suku, karena agama, karena program yang ditawarkan. Semua alasan tersebut adalah hal yang sangat diperbolehkan dalam demokrasi. Tidak ada yang lebih baik dari yang lainnya.

Pilihlah sesuai kata nurani anda sendiri, tanpa hingar bingar dari para pendengung pilkada yang layaknya penjaja di pameran selalu mengatakan produk yang dijualnya adalah yang paling bagus kualitasnya, bahkan kalau perlu menuduh macam-macam kompetitornya. Saya tidak akan mempengaruhi anda, hanya saja saya akan bertanya dan silakan jawab di dalam hati masing-masing.

Jadi sudah tahu kamu mau ada di sisi mana?

Kalau sudah tahu?

Tentukan pilihanmu.

Karena 5 menitmu akan menentuan Jakarta 5 tahun lagi seperti apa.

Selamat memilih. 🙂

Baca juga serial tulisan ini di Duduk Bersama Siapa? dan Berdiri untuk Siapa?

Tulisan ini juga dimuat di https://medium.com/@AnggaPutraF/berdiri-untuk-siapa-225726457bc9 pada 18 April 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *