persib bandung simamaung
Sepakbola

Warisan dan Cinta itu Adalah Persib Bandung

Satu hari setelah semifinal dramatis melawan Arema Malang, beredar tagar #modalfinal di media sosial twitter. Sebuah tagar yang diinisasi oleh bobotoh yang ingin menyaksikan laga final di Jakabaring. Atmosfer final sangat terasa karena tagar tersebut memperlihatkan banyak sekali bobotoh yang rela menjual barang miliknya untuk bisa berangkat ke Palembang. Ada bobotoh yang rela menggadaikan motor vespa kesayangan, kucing, bahkan ada yang ingin menjual burung kutilang untuk bisa menjadi saksi dari terkabulnya doa yang setiap hari disampaikan kepada yang maha kuasa. Sebuah pengorbanan dari orang-orang yang memiliki rasa cinta yang begitu besar terhadap klub sepakbola kesayangannya.

Hatiku terus mengatakan untuk pergi ke Palembang, belum lagi tawaran dari teman-teman Viking Bogor yang siap memfasilitasi keberangkatan ke Jakabaring. Hanya saja, aku sudah harus berangkat ke Bali sehari sebelum final, semua akomodasi yang telah dipersiapkan tidak dapat dengan mudah untuk dibatalkan. Keinginanku untuk bisa menyaksikan laga final bersama-sama bobotoh lainnya pun dapat terlaksana ketika akun @VikingBali mengumumkan akan mengadakan nonton bareng final. Apapun yang terjadi aku harus bisa berangkat menuju lokasi nobar di bilangan Simpang Dewa Ruci atau biasa dikena Simpang Siur. Di Lokasi nobar aroma final sangat terasa, dimana aku disambut oleh spanduk Viking Bali dengan slogannya Beuki Jauh, Beuki Nyaah (Semakin Jauh, Semakin Cinta) . orang-orang berbaju biru khas warna Persib Bandung memenuhi lokasi nobar, celetukan-celetukan dengan logat sunda ada dimana-mana. Dari kemarin mendengar orang bercengkrama dengan bahasa Bali membuat serasa berada di rumah. Bobotoh yang hadir memiliki harapan yang sama, Mereka ingin klub yang mereka cintai bisa mendapatkan gelar juara. Gelar yang sudah ditunggu-tunggu selama 19 tahun.

Ada satu keluarga yang datang lengkap. Ayah, Ibu, Putri seumur SD dan, putranya yang masih kecil. Kompak berbaju biru dengan syal bertuliskan “Persib Nu Aing” dan tanpa henti bernyanyi dan berteriak. Saat jeda babak perpanjangan, sang putra mengajak Ayahnya berdoa agar persib berhasil menggolkan gawang Persipura. Seketika mengingatkanku ketika Final 1994/1995, usiaku baru 6 tahun, hanya ikut orang tua dan pamanku yang serius menyaksikan babak final melawan Petrokimia. Samar-samar masih bisa kuingat luapan kegembiraan keluargaku yang melihat Sutiono melesakkan bola ke gawang pertrokimia untuk memastikan gelar juara datang ke kota kembang. Final tanggal 7 November 2014 adalah kedua kalinya aku menyaksikan Persib Bandung berlaga di laga final. Kali ini dengan perasaan yang sama dengan keluargaku yang menyaksikan final musim 1994/1995. Final pertama sebagai bobotoh Persib.

Persib adalah warisan yang paling sederhana dari seorang ayah kepada anak laki-lakinya. Silahkan tanya kepada anak laki-laki dari tatar sunda yang bermain sepakbola. Klub sepakbola yang ada di hatinya pasti Persib Bandung. Persib Bandung tidak hanya dimiliki oleh warga bandung saja tapi oleh seluruh warga Jawa Barat, ini berbeda dengan Jawa Timur yang terpecah menjadi Aremania, Bonek, LA mania. Di Jawa Barat, meskipun ia seorang kabomania namun ia juga pasti seorang bobotoh, ketika PSGC Ciamis bertanding, pasti akan ada saja suporter yang memakai baju biru, bahkan ketika pertandingan persahabatan Persib melawan Persikab di Soreang, warna dominan adalah biru bukan hijau. Sesaat setelah babak adu penalti berakhir, Jawa Barat sontak berwarna biru, bobotoh turun kejalan merayakan kemenangan yang telah dinanti-nanti. Kemenangan bagi warga Jawa Barat.

Liga Indonesia musim 2013/2014 menjadi bukti cinta mendalam dari para pendukung kepada klubnya. Jarak Bandung-Palembang bukan halangan untuk menjadi saksi secara langsung, ratusan titik nobar bagi mereka yang tidak bisa hadir di Palembang. Bukti bahwa warisan dari generasi yang menjadi saksi final 1994 kepada anak-anaknya. Legenda yang selalu diceritakan di setiap ruang keluarga, dari Ayah ke anaknya, Paman ke Keponakannya, Kakak dan adiknya. Sang penerima legenda ingin merasakan apa yang telah dirasakan oleh pendahulunya. Cinta adalah bahasa yang keluar malam itu. Cinta itu abstrak tidak berbentuk dan dirasa dalam bentuk yang berbeda oleh setiap manusia. Cinta itu tidak masuk kedalam logika. Bagaimana menjelaskan secara logika, puluhan ribu bobotoh yang hadir di Jakabaring, Bobotoh yang rela menjual barang kesayangannya, Bobotoh yang hadir di ribuan titik nonton bareng.

Coba kita ingat kembali, Apa yang kita rasakan ketika cinta kita diterima oleh pujaan hati kita? Malam itu, para pewaris legenda meresakan perasaan yang sama bahkan lebih hebat lagi karena dirasakan secara masif bersama-sama. Satu hal yang pasti, legenda ini akan diceritakan kepada para pewaris selanjutnya, tidak hanya cerita namun juga rasa cinta. Cinta, tanpa batas usia, tanpa batas negara. Terima kasih kepada para pemain yang telah memberikan kesempatan kepadaku dan saudaraku lainnya untuk merasakan kebangaan dan cinta, akan kuwariskan semua yang ku punya ke pada penerusku agar cinta itu abadi.

Angga Putra Fidrian (@AnggaPutraF)

Tulisan ini dimuat juga di https://simamaung.com/warisan-dan-cinta-itu-adalah-persib-bandung/ pada Jumat, 21 Novermber 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *